
Era globalisasi adalah era di mana persaingan antara satu manusia dan yang lain semakin kuat dan ketat. Dalam era globalisasi saat ini, banyak sekali pengaruh-pengaruh yang datang dari dunia luar ke Indonesia, khususnya dari negara-negara barat. Globalisasi memungkinkan terjadinya pertukaran informasi, budaya, perdagangan dan lain-lain.

Di Bali khususnya, dampak globalisasi ini akan sangat dapat dirasakan. Hal ini karena Bali merupakan destinasi wisata terpopuler di Indonesia sejak dulu. Bali merupakan provinsi penghasil devisa terbesar di Indonesia sejak tahun 1970. Dari data Badan Pusat Statistik 2017 menyebutkan, tiap tahunnya bali menyumbang pendapatan untuk negara dari devisa sebesar 50%. Ini artinya, Bali juga merupakan pulau yang terkena dampak globalisasi terbesar di Indonesia. Lihat saja, pulau ini didatangi bahkan ribuan turis di setiap penjuru wilayahnya, terutama wilayah wisata,
Lalu apa saja dampak globalisasi bagi Bali? Apakah ini pertanda baik? Seperti yang sudah disebutkan di atas, Bali penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Ini menyebabkan, kemakmuran masyarakatnya juga terjamin. Bila bekerja di industry pariwisata di Bali, kita akan mendapatkan gaji total di atas UMK (UMK+service). Dan service fee biasanya tak tanggung-tanggung. Nominalnya bisa mencapai 100-200% dari gaji UMK. Hal ini jarang terjadi di kota-kota di luar pulau Bali. Selain itu, dari gaya hidup dan pola pikir masyarakatnya juga berubah. Di Bali, kita bisa mempelajari seluruh kebudayaan dari penjuru dunia hanya dalam 1 pulau bali sekaligus, Karena, seluruh turis dari seluruh dunia datang ke bali. Dan cara pelayanan turis pun, otomatis akan disesuaikan secara Internasional bahkan berbeda untuk tiap tiap negara, Kita akan belajar banyak mengenai budaya negara-negara disini. Cara pikir dan gaya hidup pun akan berpengaruh kepada penduduk lokal.
Tidak hanya sisi positif, sisi negatif pun ada. Dengan adanya perubahan cara pikir dan gaya hidup, hal ini akan berpengaruh pada cara pikir dan gaya hidup asli masyarakat Bali. Contohnya saja bahasa daerah. Perkembangan Globalisasi khususnya IPTEK yang kian merembet hingga ke daerah terpelosok seperti di pedesaan tampaknya menjadi ‘angin segar’ bagi kemajuan desa. Kerap kita semua amati, komunikasi antar warga semakin mudah dan cepat dengan menggunakan handphone. Informasi pun sangat cepat menyebar dan banyak masyarakat merasa terbantu akan kemudahan tersebut. Namun, sangat perlu disadari bahwa ‘angin’ tersebut tak luput akan ‘partikel debu’ yang di hembuskannya. Secara tidak sadar, ada bagian dari masyarakat yang terkikis akibat kemajuan tersebut. Disebabkan oleh tuntutan dari kemajuan teknologi yang berbasis bahasa bukan bahasa daerah, masyarakat pengguna wajib fasih dalam mengerti dan menggunakan bahasa yang di terapkan pada teknologi tersebut.
Tidak hanya itu, dari segi lingkungan, sampah yang dihasilkan pulau Bali akibat pariwisata juga semakin meningkat. Pada tahun 2016, pantai kuta tercatat menghasilkan sampah terutama plastik sebesar 1200ton. Sampah sampah tersebur berasal dari wisatawan dan penduduk lokal yang membuang sampah sembarangan. Dan pada April 2017, komunitas pecinta lingkungan asal amerika yang bernama leavenotrash mencatat 20 pantai terkenal di Bali (termasuk Kuta, Canggu, dan Sanur) penuh dengan sampah. Komunitas ini pun selalu rutin melakukan pembersihan lingkungan setiap minggunya di pantai pantai tersebut untuk mengurangi volume sampah

“Membersihkan saja tidak cukup. Kita perlu mencegahnya” ujar Sitraka, founder leavenotrash ketika diwawancarai di acara wrirterfestival ubud, Oktober 2017 lalu. Indonesia sudah masuk era MEA sejak 2015. Sebagai wujud berpartisipasinya bali terhadap era globalisasi khususnya MEA tersebut. Hal pertama yang pemerintah berlakukan adalah peraturan “No Plastic Anymore” di tiap pusat perbelanjaan di seluruh Bali sejak Juni 2019 lalu. Dua pejabat di Bali, Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Gubernur Bali Wayan Koster mulai 2019 ini akan menetapkan aturan pengurangan sampah plastik. Dan hal ini berjalan sukses.Kini dapat kita lihat, setiap orang menggunakan kantong belanja sendiri ketika melakukan transaksi dan membawa barang barangnya. Sejak program ini di atur, per 1 Juli 2019 Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa volume sampah plastic di Bali berkurang sebesar 40% di TPA SUWUNG Denpasar
Tak hanya itu, permasalahan globalisasi di Bali, yakni mengenai Bahasa daerah juga dapat diatasi. Setiap kamis, pemerintah Bali mewajibkan masyarakatnya menggunakan pakaian adat Bali sekaligus bahasa Bali untuk menjaga kelestarian Budayanya. Selain itu, para anak muda bali, dengan kreatif menciptakan aplikasi aksara bali, meme meme berbahasa atau aksara Bali, untuk meningkatkan kembali penggunaan Bahasa Bali. Juga, di beberapa daerah di Bali, kini sedang gencar mengajari para wisatawan berbahasa Bali dengan mendirikan kursus kursus bahasa Bali
Ini menunjukan, bali siap bersaing di era globalisasi. Walau memiliki dampak negatif, Bali mampu mengatasinya
Lalu apa saja dampak globalisasi bagi Bali? Apakah ini pertanda baik? Seperti yang sudah disebutkan di atas, Bali penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Ini menyebabkan, kemakmuran masyarakatnya juga terjamin. Bila bekerja di industry pariwisata di Bali, kita akan mendapatkan gaji total di atas UMK (UMK+service). Dan service fee biasanya tak tanggung-tanggung. Nominalnya bisa mencapai 100-200% dari gaji UMK. Hal ini jarang terjadi di kota-kota di luar pulau Bali. Selain itu, dari gaya hidup dan pola pikir masyarakatnya juga berubah. Di Bali, kita bisa mempelajari seluruh kebudayaan dari penjuru dunia hanya dalam 1 pulau bali sekaligus, Karena, seluruh turis dari seluruh dunia datang ke bali. Dan cara pelayanan turis pun, otomatis akan disesuaikan secara Internasional bahkan berbeda untuk tiap tiap negara, Kita akan belajar banyak mengenai budaya negara-negara disini. Cara pikir dan gaya hidup pun akan berpengaruh kepada penduduk lokal.
Era globalisasi adalah era di mana persaingan antara satu manusia dan yang lain semakin kuat dan ketat. Dalam era globalisasi saat ini, banyak sekali pengaruh-pengaruh yang datang dari dunia luar ke Indonesia, khususnya dari negara-negara barat. Globalisasi memungkinkan terjadinya pertukaran informasi, budaya, perdagangan dan lain-lain.

Tidak hanya sisi positif, sisi negatif pun ada. Dengan adanya perubahan cara pikir dan gaya hidup, hal ini akan berpengaruh pada cara pikir dan gaya hidup asli masyarakat Bali. Contohnya saja bahasa daerah. Perkembangan Globalisasi khususnya IPTEK yang kian merembet hingga ke daerah terpelosok seperti di pedesaan tampaknya menjadi ‘angin segar’ bagi kemajuan desa. Kerap kita semua amati, komunikasi antar warga semakin mudah dan cepat dengan menggunakan handphone. Informasi pun sangat cepat menyebar dan banyak masyarakat merasa terbantu akan kemudahan tersebut. Namun, sangat perlu disadari bahwa ‘angin’ tersebut tak luput akan ‘partikel debu’ yang di hembuskannya. Secara tidak sadar, ada bagian dari masyarakat yang terkikis akibat kemajuan tersebut. Disebabkan oleh tuntutan dari kemajuan teknologi yang berbasis bahasa bukan bahasa daerah, masyarakat pengguna wajib fasih dalam mengerti dan menggunakan bahasa yang di terapkan pada teknologi tersebut.
Tidak hanya itu, dari segi lingkungan, sampah yang dihasilkan pulau Bali akibat pariwisata juga semakin meningkat. Pada tahun 2016, pantai kuta tercatat menghasilkan sampah terutama plastik sebesar 1200ton. Sampah sampah tersebur berasal dari wisatawan dan penduduk lokal yang membuang sampah sembarangan. Dan pada April 2017, komunitas pecinta lingkungan asal amerika yang bernama leavenotrash mencatat 20 pantai terkenal di Bali (termasuk Kuta, Canggu, dan Sanur) penuh dengan sampah. Komunitas ini pun selalu rutin melakukan pembersihan lingkungan setiap minggunya di pantai pantai tersebut untuk mengurangi volume sampah

“Membersihkan saja tidak cukup. Kita perlu mencegahnya” ujar Sitraka, founder leavenotrash ketika diwawancarai di acara wrirterfestival ubud, Oktober 2017 lalu. Indonesia sudah masuk era MEA sejak 2015. Sebagai wujud berpartisipasinya bali terhadap era globalisasi khususnya MEA tersebut. Hal pertama yang pemerintah berlakukan adalah peraturan “No Plastic Anymore” di tiap pusat perbelanjaan di seluruh Bali sejak Juni 2019 lalu. Dua pejabat di Bali, Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Gubernur Bali Wayan Koster mulai 2019 ini akan menetapkan aturan pengurangan sampah plastik. Dan hal ini berjalan sukses.Kini dapat kita lihat, setiap orang menggunakan kantong belanja sendiri ketika melakukan transaksi dan membawa barang barangnya. Sejak program ini di atur, per 1 Juli 2019 Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa volume sampah plastic di Bali berkurang sebesar 40% di TPA SUWUNG Denpasar
Tak hanya itu, permasalahan globalisasi di Bali, yakni mengenai Bahasa daerah juga dapat diatasi. Setiap kamis, pemerintah Bali mewajibkan masyarakatnya menggunakan pakaian adat Bali sekaligus bahasa Bali untuk menjaga kelestarian Budayanya. Selain itu, para anak muda bali, dengan kreatif menciptakan aplikasi aksara bali, meme meme berbahasa atau aksara Bali, untuk meningkatkan kembali penggunaan Bahasa Bali. Juga, di beberapa daerah di Bali, kini sedang gencar mengajari para wisatawan berbahasa Bali dengan mendirikan kursus kursus bahasa Bali
Ini menunjukan, bali siap bersaing di era globalisasi. Walau memiliki dampak negatif, Bali mampu mengatasinya