PENGARUH GENERASI MILLENIAL DALAM PERTUMBUHAN SEKTOR PARIWISATA

Generasi milenial adalah konsumen wisata yang sangat potensial. Selain jumlah yang besar, karakter mereka secara tidak langsung sangat mendukung proses promosi. Karenanya, pengelola wisata dituntut untuk mengikuti keinginan dan harapan mereka. Jika tidak, tentu mereka akan mengabaikan wisata kita. Secara berurutan, generasi milenial paling banyak menggunakan media sosial youtube, facebook dan instagram. Pegiat wisata berbasis masyarakat harus mempelajari karakter dari ketiga media sosial tersebut. Secara teknis, perlu riset media sosial untuk mendapatkan hati para generasi milenial. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari kata kunci yang berhubungan dengan wisata yang sedang kita kembangkan. Misalnya saat ada penyelenggaraan event pariwisata seperti PKB  (Pesta Kesenian Bali ) yang baru saja usai beberapa waktu lalu tentu penggunaan hastag atau tanda pagar dalam meng-upload sesuatu. Setelah itu perlu mencari akun atau orang-orang yang tertarik dengan karakter wisata yang sedang dikembangkan. Terakhir, mengunggah foto atau video terbaik dengan menyertakan kata kunci dan menandai (tag) orang-orang sehingga saat orang lain membuka aplikasi tentu akan menjadi prioritas tampilan dalam halaman awal.Hal ini juga memudahkan orang orang untuk lebih mengetahui informasi terkini mengenai kegiatan kegiatan yang tengah berlangsung, akan datang maupun sudah berlalu secara lebih mudah . Dengan kemudahan kemudahan ini bisa meningkatkan minat dan daya Tarik wisatawan asing maupun dalam negeri karena postingan postingan yang sudah ada sebelumnya.

Menurut beberapa kajian, ternyata karakter wisatawan milenial adalah mereka yang gemar mencari pengalaman baru, termasuk wisata petualangan, eksplorasi, dan perjalanan darat (road trips). Mereka cenderung spontan, tak terlalu banyak waktu untuk perencanaan, dan percaya pada ulasan-ulasan destinasi wisata di internet terutama pada media sosial. Maka, tak heran kalau travel blogger menjadi kiblatnya. Perilaku ini berkembang menjadi tren dan kian menular. Yang tak kalah menarik, rata-rata para wisatawan milenial mengaku bahwa pilihan pelesir mereka adalah untuk mencari pengalaman wisata unik, baru, otentik, dan personal. Salah satu alasannya adalah untuk membuat mereka berbeda dari rekan-rekannya.

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar, Rizki Handayani, mengatakan bahwa pada 2019 lebih dari 50 persen pasar wisata Indonesia sudah didominasi millennial.

“Wisatawan millennial akan terus tumbuh dan menjadi pasar utama,” kata dia.

Untuk pasar pariwisata Asia didominasi wisatawan millennial berusia 15-34 tahun mencapai hingga 57 persen. Di Tiongkok generasi milennial akan mencapai 333 juta, Filipina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand 19 juta, sedangkan Indonesia 82 juta.

Rizki menjelaskan, pada era digital ini kaum millennial adalah pemeran utama dalam menggunakan teknologi. Mereka membuat cara-cara lama tidak dipakai lagi. Milinial dan teknologinya bisa menyebabkan harga tidak naik meskipun rupiah turun.

Ia mengatakan, banyak negara mulai menyasar pasar millennial Indonesia, seperti Korea dan Jepang.

”Saya berharap di 2019 Indonesia tidak kecolongan dalam mengantisipasi potensi wisatawan millennial,” ujar Rizki.

Sedangkan Menurut Menpar Arief Yahya, agar berhasil dalam penerapan sebuah teknologi membutuhkan kehadiran unsur kunci lainnya seperti sumber daya manusia (SDM) atau humanware, hubungan kerja atau kolaborasi, dan berbagai informasi yang membuat teknologi tersebut dapat bekerja dengan baik.Pentingnya peranan generasi milenial untuk sektor pariwisata Indonesia juga didukung oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya, yang mengajak kaum milenial untuk memanfaatkan keunggulan tourism 4.0 untuk memenangkan persaingan sektor pariwisata di pasar global. Tourism 4.0 yang telah didukung oleh kemajuan teknologi diharapkan dapat terus meningkatkan penyebaran informasi dan kemudahan wisatawan untuk datang ke Indonesia.

Dalam hal ini istilah TRAVELING kini bukan lagi sekadar kegiatan untuk melepas rasa penat. Bagi para generasi milenial, kegiatan ini sudah menjadi sebuah kebutuhan utama untuk mendapatkan ide-ide kreatif yang bisa diaplikasikan pada rutinitas sehari-hari.

Buktinya, tren traveling di kalangan milenial selalu meningkat setiap tahunnya, terutama bagi merek ayang berusia 18-35 tahun. Di samping itu, kekayaan alam dan budaya Indonesia merupakan alasan utama terjadinya peningkatan aktivitas wisata di dalam negeri.

Jadi,pengaruh generasi millennial dalam sector pariwisata sangatlah besar dengan banyak dampak positif dan kemudahannya.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai